Pola Batik Semen Contoh Pola Batik Semen [I] [II] [III] [IV]
Oleh : Ny. Toetti Toekajati Soerjanto
I. Pendahuluan
Pola batik semen tampil dalam batik dari setiap daerah, terutama di
Pulau Jawa, yang meliputi antara lain Yogyakarta, Surakarta,
Banyumas dan Cirebon. Pola batik semen
dijumpai
terutama pada jenis Batik Kraton, Batik Pengaruh Kraton, Batik
Sudagaran, Batik Petani, dan Batik Indonesia. Dengan demikian, dapat
dikatakan bahwa pola batik semen terdapat pada sebagian besar jenis
batik. Pola semen sangat mudah dikenali karena mempunyai ragam hias
penyusun yang khas yang selalu hadir dalam pola-polanya.
II. Sejarah Pola Semen
Asal mula hadirnya pola semen berawal pada saat pemerintahan Sunan
Paku Buwono IV (1787 1816) di saat beliau mengangkat putera mahkota
sebagai calon penggantinya. Beliau menciptakan pola tersebut guna
mengingatkan puteranya kepada perilaku dan watak seorang penguasa
seperti wejangan yang diberikan oleh Prabu Rama kepada Raden Gunawan
Wibisana saat akan menjadi raja. Wejangan tersebut dikenal dengan
sebutan Hasta Brata.
Wejangan ini terdiri dari 8 (hasta) hal yang masing-masing
ditampilkan dalam pola semen dengan bentuk ragam-ragam hias yang
mempunyai arti filosofis sesuai dengan makna masing masing ragam
hias tersebut. Oleh karena itu, pola batik ciptaan beliau tersebut
diberi nama semen Rama (dari Prabu Rama). Berdasarkan uraian diatas
nampak bahwa pola semen merupakan salah satu pola batik yang
mencerminkan pengaruh agama Hindhu-Budha pada batik. Hal tersebut
dapat dimengerti karena pada saat pola-pola batik diciptakan yaitu
kira-kira pada zaman kerajaan Mataram (pada masa Sultan Agung
Hanyokrokusumo, abad 17 M), peradaban di kerajaan tersebut masih
mempertahankan unsur-unsur tradisi Jawa yang sangat dipengaruhi oleh
agama Hindhu-Budha. Pengaruh tersebut tidak hanya terdapat pada
unsur-unsur kesenian dan kesusasteraan saja, melainkan juga
unsur-unsur yang terdapat dalam upacara adat dan keagamaan hingga
saat ini.
Dibandingkan dengan pola Parang atau Lereng yang sudah ada sejak
zaman Mataram (pada masa Penembahan Senopati), pola semen tergolong
lebih muda. Pola semen yang diciptakan setelah pola semen Rama
selalu mengandung ragam-ragam hias yang terdapat pada pola semen
Rama, baik sebagian ataupun seluruhnya. Namun demikian, ada satu
ragam hias yang selalu harus dihadirkan dan merupakan ciri dari
sebuah pola semen adalah ragam hias gunung atau meru. Hal ini
disebabkan karena nama dari pola semen diperoleh dari ragam hias
tersebut.
Asal kata semen adalah semi. Ragam hias gunung atau meru berasal
dari kata Mahameru yaitu gunung tertinggi tempat bersemayam para
dewa dari agama Hindhu. Di gunung pasti terdapat tanah tempat
tumbuh-tumbuhan bersemi. Dari sinilah asal kata semen.
Pola semen termasuk dalam golongan pola batik non geometris, selain
pola-pola batik Lung-lungan Buketan, Dan Pinggiran.
III. Perkembangan Pola Semen
Sebagaimana disebutkan diatas, pola semen pertama-tama menampilkan
ragam-ragam hias yang mengikuti arti filosofis agama Hindhu (diambil
dari ceritera Ramayana), sehingga arti filosofis pola semen sesuai
dengan ajaran yang terdapat dalam Hastabrata Ramayana.
Dalam perkembangan selanjutnya, kandungan nilai filosofis pola
semen, selain yang dilambangkan oleh ragam hias dari Hastabrata, ada
pula yang ditambah dengan ragam-ragam hias lain yang menjadi dasar
pemberian nama polanya, sebagai contoh adalah pola semen Gajah
Birawa. Dalam pola tersebut nampak adanya ragam hias berupa gajah,
pada semen rante terdapat bentuk-bentuk seperti rantai, dan
seterusnya. Selain itu, banyak pola semen dengan ragam hias pokok
yang sudah mengalami improvisasi sesuai selera penciptanya tetapi
tetap alam arti filosofis yang sama, diberi nama yang mempunyai arti
sebagai cerminan serta harapan. Sebagai contoh adalah semen Sidoasih
dengan berbagai versi namun mencerminkan arti yang sama.
IV. Jenis jenis batik yang memiliki pola semen
1. Batik Kraton - Kraton Yogyakarta (semen
gurdho, semen sinom), Kraton Surakarta (semen gendhong, semen rama),
Puro Pakualaman (semen sidoasih), Puro Mangkunegaran (semen jolen),
Cirebon (semen rama, sawat pengantin).
2. Batik Pengaruh Kraton - Banyumas (semen
klewer banyumasan).
3. Batik Sudagaran - Yogyakarta (semen
sidoasih, semen giri), Surakarta (semen rama, semen kakrasana).
4. Batik Pedesaan - Yogyakarta (semen rante),
Surakarta (semen rama).
5. Batik Indonesia
Bermacam-macam pola semen terdapat dalam jenis Batik Indonesia ini.
Bahkan pada pemunculan pertamanya yaitu kurang lebih pada tahun
1950, pola batik semen mendominasi jenis Batik Indonesia ini
disamping pola parang dan lereng karena pada prinsipnya Batik
Indonesia merupakan perpaduan antara pola batik klasik atau
tradisional (pola semen dan pola parang atau lereng) dengan
pewarnaan Batik Pesisiran.