Pola Batik Nitik Contoh Pola Batik Nitik [I] [II] [III] [IV]
Oleh: Ny Ir. Toetti T. Surjanto
Batik merupakan hasil seni budaya yang memiliki keindahan visual dan
mengandung makna filosofis pada setiap motifnya.
Penampilan sehelai batik tradisional baik dari segi motif maupun
warnanya dapat mengatakan kepada kita dari mana batik tersebut
berasal. Motif batik berkembang sejalan dengan perjalanan waktu,
tempat, peristiwa yang menyertai, serta perkembangan kebutuhan
masyarakat. Sering kali tempat memberi pengaruh yang cukup besar
pada motif batik. Meskipun berasal dari sumber atau tempat yang sama,
namun karena tempat berkembangnya berbeda, maka akan menghasilkan
motif baru yang berbeda pula. Sebagai contohnya adalah motif Nitik.
Motif Nitik sebenarnya berasal dari pengaruh luar yang berkembang di
pantai utara laut Jawa, sampai akhirnya berkembang pula di pedalaman
menjadi suatu motif yang sangat indah. Pada saat pedagang dari
Gujarat datang di pantai utara pulau Jawa, dalam dagangannya
terdapat kain tenun dan bahan sutera khas Gujarat. Motif dan kain
tersebut berbentuk geometris dan sangat indah, dibuat dengan teknik
dobel ikat yang disebut "Patola" yang dikenal di Jawa sebagai kain "cinde".
Warna yang digunakan adalah merah dan biru indigo.
Motif kain patola memberi inspirasi para pembatik di daerah pesisir
maupun pedalaman, bahkan lingkungan Kraton. Di daerah Pekalongan
terciptalah kain batik yang disebut Jlamprang, bermotif Ceplok
dengan warna khas Pekalongan. Karena terinspirasi motif tenunan,
maka motif yang tercipta terdiri dari bujur sangkar dan persegi
panjang yang disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan anyaman
yang terdapat pada tenunan Patola. Karena kain batik Jlamprang
berkembang di daerah pesisir, maka warnanya pun bermacam-macam
sesuai selera konsumennya yang kebanyakan berasal dari Eropa, Cina,
dan negara-negara lain. Warna yang dominan digunakan adalah rnerah,
hijau, biru dan kuning, meskipun masih juga menggunakan warna soga
dan wedelan.
Selain terdiri dari bujur sangkar dan persegi panjang, Nitik dari
Yogyakarta juga diperindah dengan hadirnya isen-isen batik lain
seperti, cecek (cecek pitu, cecek telu), bahkan ada yang diberi
ornamen batik dengan Klowong maupun Tembokan, sehingga penampilannya
baik bentuk dan warnanya lain dari motif Jlamprang Pekalongan. Nitik
dari Yogyakarta menggunakan warna indigo, soga (coklat) dan putih.
Seperti motif batik yang berasal dari Kraton lainnya, motif Nitik
kreasi Kraton juga berkembang keluar tembok Kraton. Lingkungan
Kraton Yogyakarta yang terkenal dengan motif Nitik yang indah adalah
Ndalem Brongtodiningrat. Pada tahun 1940, GBRAy Brongtodiningrat
pernah membuat dokumen diatas mori berupa batik kelengan dan lima
puluh enam motif Nitik. Sejak kira-kira tahun 1950 sampai saat ini,
pembatikan yang membuat batik Nitik adalah Desa Wonokromo dekat
Kotagede.
Untuk membuat batikan yang berbentuk bujur sangkar dan persegi
panjang diperlukan canting tulis khusus dengan lubang canting yang
berbeda dengan canting biasa. Canting tulis Nitik di buat dengan
membelah lubang canting biasa ke dua arah yang saling tegak lurus.
Dalam pengerjaannya, setelah pencelupan pertama dalam warna biru,
proses mengerok hanya dikerjakan untuk bagian cecek saja, atau bila
ada bagian klowongnya. Agar warna soga dapat masuk di bagian motif
yang berupa bujur sangkar dan persegi panjang yang sangat kecil
tersebut, maka bagian tersebut "diuyek" sehingga pada bagian
tertentu lilinnya dapat lepas dan warna soga dapat masuk ke dalamnya.
Oleh karena itu untuk membuat batik Nitik memerlukan lilin khusus
yaitu lilin yang kekuatan menempelnya antara lilin klowong dan lilin
tembok. Langkah selanjutnyaadalah "mbironi", menyoga dan akhimya "melorod".
Sampai saat ini terdapat kurang lebih 70 motif nitik. Sebagian besar
motif Nitik di beri nama dengan nama bunga, seperti kembang kenthang,
sekar kemuning, sekar randu, dan sebagainya. Ada pula yang di beri
nama lain, misalnya, nitik cakar, nitik jonggrang, tanjung gunung
dan sebagainya. Selain tampil sendiri, motif Nitik sering di padu
dengan motif Parang, ditampilkan dalam bentuk ceplok, kothak atau
sebagai pengisi bentuk keyong, dan juga sebagal motif untuk sekar
jagad, tambal, dan sebagainya. Paduan motif ini terdiri dan satu
macam maupun bermacam-macam motif Nitik. Tampilan yang merupakan
paduan motif Nitik dengan motif lain membawa perubahan nama,
misalnya parang seling nitik, nitik tambal, nitik kasatrian dan
sebagainya.
Seperti halnya motif batik yang lain, motif nitik juga mempunyai
arti filosofis, misalnya nitik cakar yang sering digunakan pada
upacara adat perkawinan. Diberi nama demikian karena pada bagian
motifnya terdapat ornamen yang berbentuk seperti cakar. Cakar yang
di maksud adalah cakar ayam atau kaki bagian bawah. Cakar ini oleh
ayam digunakan untuk mengais tanah mencari makanan atau sesuatu
untuk dimakan. Motif nitik cakar dikenakan pada upacara adat
perkawinan dimaksudkan agar pasangan yang menikah dapat mencani
nafkah dengan halal sepandai ayam mencari makan dengan cakarnya.
Nitik cakar dapat berdiri sendiri sebagai motif dan satu kain atau
sebagai bagian dan motif kain tertentu, seperti motif Wirasat atau
Sidodrajat, yang juga sening digunakan dalam upacara adat perkawinan.