Pola Batik Ceplok
Sebagian besar Pola Ceplok itu merupakan pola-pola batik kuno yang
terdapat pada hiasan arca di Candi Hindu/Budha dengan bentuk
kotao-kotak, lingkaran, binatang, bentuk tertutup serta garis-garis
miring.
Pola dasar yang terdapat pada candi Hindu di arca Ganesha dari Banon
Borobudur, arca Hari Hara dari Blitar, Ganesha dari Kediri dan arca
arca Parwati dari Jawa merupakan pola dasar dari pola Kawung.
Dasar pola Ceplok terdapat di arca Budha antara lain Budha Mahadewa
dari Tumpang dan arca Brkhuti dari candi Jago.
Terlihat dari uraian diatas pola Kawung merupakan pola ceplok tertua
dan terdiri dari 4 ragam hias elips atau lingkaran yang disusun
sedemikian rupa sehingga keempatnya besinggungan satu sama lainnya
dan ditengahnya terdapat ragam hias Mlinjon.
Selanjutnya elips/lingkaran ini dimodifikasi dengan menambah ragam
hias isen atau mengubah bentuk sehingga diperoleh pola kawung yang
indah dan beragam dengan nama beragam pula, antara lain kawung prabu,
brendi, geger mendut, gelar, sisik dan sebagainya.
Dari ukuran lingkaran juga diciptakan berbagai pola seperti kawung
ndil, sen, benggol, semar, raja dan lainnya.
Pola Kawung seperti halnya pola nitik, pola banji, pola ganggong
karena jumlahnya sangat banyak sering dikelompokan sebagai pola
tersendiri. Dengan demikian pembagian golongan dalam pola geometris
menjadi golongan Ceplokan, golongan pola Kawung, Pola Nitik, Pola
Ganggong, Pola Banji, Pola Parang dan pola Lereng.
Pola Ceplok kuno Yogyakarta adalah dari keraton Kotagede [Mataram]
sedangkan pola Ceplok Surakarta diciptakan setelah pembagian
kerajaan Mataram menjadi dua.
Kadang ada pola yang dinamakan sama tetapi polanya beda antara satu
tempat dan lainnya, seperti pola ceplok Yogya kadang mempunyai nama
sama dengan pola semen Surakarta, contohnya pola ceplok Kokrosono di
Yogya kalau di Surakarta dikenal sebagai pola Semen.