NGANJI

Proses Nganji - from Handbook of Indonesian Batik
Sebelum dicap, biasanya mori dicuci terlebih dahulu dengan air
hingga kanji aslinya hilang dan bersih,
kemudian di kanji lagi. Motif batik harus dilapisi dengan kanji
dengan ketebalan tertentu, jika terlalu tebal nantinya malam kurang
baik melekatnya dan jika terlalu tipis maka akibatnya malam akan “mblobor”
yang nantinya akan sulit dihilangkan.
Mori dengan kualitas tertinggi [Primisima] tidak perlu dikanji lagi,
karena ketebalan kanjinya sudah memenuhi syarat.
NGEMPLONG

Proses Ngemplong - from Handbook of Indonesian Batik
Biasanya hanya mori yang halus yang perlu dikemplong terlebih dahulu
sebelum dibatik. Mori biru untuk batik cap biasanya bisa langsung
dikerjakan tanpa dilakukan pekerjaan persiapan.
Tujuan dari ngemplong ialah agar mori menjadi licin dan lemas. Untuk
maksud ini mori ditaruh diatas sebilah kayu dan dipukul-pukul secara
teratur oleh pemukul kayu pula.
Mori yang dikemplong akan lebih mudah dibatik sehingga hasilnya
lebih baik.
TEKNIK PEMBUATAN BATIK
NGLOWONG,
Pelekatan
malam [lilin] yang pertama.

Selesai dikemplong mori sudah siap untuk dikerjakan. Teknik
pembikinan batik terdiri dari pekerjaan utama, dimulai dari
pekerjaan utama, dimulai dengan
nglowong ialah mengecap atau membatik motif-motifnya
diatas mori dengan menggunakan
canting
Nglowong
pada sebelah kain disebut juga ngengreng dan setelah selesai
dilanjutkan dengan
nerusi
pada sebelah lainnya
NEMBOK,
pelekatan
malam kedua

Sebelum dicelup kedalam zat pewarna, bagian yang dikehendaki tetap
berwarna putih harus ditutup dengan malam. Lapisan
malam ini ibaratnya tembok untuk menahan zat perwarna
agar jangan merembes kebagian yang tertutup malam.
Oleh karena itu pekerjaan ini disebut menembok, jika ada perembesan
karena tembokannya kurang kuat maka bagian yang seharusnya putih
akan tampak jalur2 berwarna yang akan mengurangi keindahan batik
tersebut. Itulah sebabnya malam temboknya harus kuat dan ulet, lain
dengan
malam klowong yang justru tidak boleh terlalu ulet agar
mudah dikerok.
MEDEL,
Pencelupan pertama dalam zat warna
Tujuan Medel adalah memberi warna biru tua sebagai warna dasar kain.
Jaman dulu pekerjaan ini memakan waktu berhari-hari karena
menggunakan bahan pewarna
indigo [bahasa jawanya :
tom]
Zat pewarna ini sangat lambat menyerap dalam kain mori sehingga
harus dilakukan berulang kali, kini dengan bahan warna modern bisa
dilakukan dengan cepat.
NGEROK,
Menghilangkan malam klowong
Bagian yang akan di soga agar berwarna coklat, dikerok dengan
Cawuk [semacam pisau tumpul dibuat dari seng] untuk
menghilangkan malam nya.
mBIRONI,
Penggunaan malam ke tiga
Pekerjaan berikutnya adalam mBironi, yang terdiri dari penutupan
dengan malam bagian-bagian kain yang tetap diharapkan berwarna biru,
sedangkan bagian yang akan di soga tetap terbuka. Pekerjaan mBironi
ini dikerjakan didua sisi kain.
MENYOGA,
Pencelupan kedua
Menyoga merupakan proses yang banyak memakan waktu, karena mencelup
kedalam soga. Jika menggunakan soga alam, tidak cukup hanya satu dua
kali saja, harus berulang.
Tiap kali pencelupan harus dikeringkan diudara terbuka. Dengan
menggunakan soga sintetis maka proses ini bisa diperpendek hanya
setengah jam saja. Istilah menyoga diambil dari kata pohon tertentu
yang kulit pohonnya menghasilkan warna
soga [coklat] bila direndam di air.
NGLOROD,
Menghilangkan malam
Setelah mendapat warna yang dikehendaki, maka kain harus mengalami
proses pengerjaan lagi yaitu
malam yang masih ketinggalan di mori harus dihilangkan,
caranya dengan dimasukkan kedalam air mendidih yang disebut Nglorod.