Bagaimanapun Batik sudah dikenal sebagai salah satu identitas Bangsa Indonesia [more ..]
Meneropong "Makna
Spiritual Batik Jawa"
BATIK TIDAK HANYA MENAMPILKAN KEINDAHAN UJUD SECARA KASAT MATA.
MELAINKAN JUGA MENYIMPAN KEDALAMAN SPIRITUAL YANG DIPANCARKAN
MELALUI MOTIF-MOTIFNYA YANG “SAKRAL”. TAK MENGHERANKAN JIKA JENIS
KAIN KEMUDIAN RAJIN
MENYERTAI DAUR KEHIDUPAN MASYARAKAT JAWA. SEJAK LAHIR HINGGA AJAL
TIBA.
Hal serupa pernah disampaikan oleh Sri Sultan HB X saat meresmikan
Museum Batik di Kraton Yogyakarta 2005 silam. “Sejak lahir,
menjalani hidup di dunia hingga meninggal, dibungkus dengan kain
batik. Batik sangat dekat dengan kehidupan. Khususnya dalam
lingkungan keluarga.”
Kedekatan batik dengan kehidupan masyarakat Jawa telah menjadikannya
bagian hidup yang tak terpisahkan. Melalui selembar kain dengan
goresan warna lembut terlukis di atasnya, bisa terlihat gambaran
hidup masyarakat Jawa secara keseluruhan. Itulah yang membuat batik
menjadi karya seni sangat istimewa. Baik dalam proses pembuatan,
filosofi yang terkandung, hingga etika dan tata cara pemakaiannya.
Sebagai pusaka warisan leluhur, proses pembuatan kain batik
dilakukan dengan melibatkan seluruh indera perasa. Merunut jauh ke
belakang, kain yang bersumber dari dalam kraton dan menjadi
ageman dalem ingkang sinuwun ini, tak jarang dibuat melalui
serangkaian ritual tertentu. Apalagi dahulu, batik dikerjakan
sendiri oleh putri-putri kraton.
“Dulu, mereka sering nglakoni yang terwujud dalam puasa
dengan mengurangi diri dari makan, minum, tidur, dan kesenangan
duniawi yang lain, serta bersemedi. Hal ini dilakukan untuk
mendapatkan ilham dalam menciptakan motif batik,” ungkap Ir Toetti T
Soerjanto.
Menurut wanita yang mengaku sangat mencintai batik ini, pada zaman
dulu membatik merupakan kegiatan yang penuh nilai rohani. Selain
memerlukan pemusatan pikiran dan kesabaran, juga dilakukan dengan
kebersihan jiwa untuk memohon petunjuk dari Gusti Yang Murbeng
Dumadi agar mendapatkan ilham dalam menciptakan motif batik. Dari
sinilah kemudian motif batik diyakini mengandung filosofi sesuai
motifnya.
Hal senada diungkapkan oleh Mari S Condronegoro. Menurut wanita
keturunan Sri Sultan Hamengku Buwono VII ini, ritual yang mengiringi
proses pembuatan batik biasanya adalah laku puasa. Dengan
berpuasa, kata Mari, diharapkan akan muncul ketenangan diri hingga
bisa mendapatkan ilham untuk menciptakan motif yang baru. Biasanya,
semakin penting batik yang dibuat, semakin lama pula puasa dilakukan.
Selain puasa, dilakukan pula pembacaan doa-doa. Mengikuti dhawuh
dalem dulu di mana Sultan merupakan seorang Panatagama,
maka doa-doa yang dibaca adalah doa-doa muslim yang merupakan agama
yang dianut oleh Sultan. Dengan ritual tersebut, diharapkan proses
pembuatan batik akan berlangsung lancar. Syukur bisa menghasilkan
batik bernilai tinggi yang bisa memancarkan aura bagi pemakainya
atau “pecah pamore”. Terlebih bila batik yang dibuat itu
ditujukan atau akan dipakai oleh sinuwun atau keluarga kraton
yang lain.
Meski tidak terpaparkan secara gamblang, laku ritual yang mengiringi
proses membatik juga terungkap dari beberapa sumber dari njeron
beteng yang turun-temurun mendapat cerita dari eyang buyut dan
leluhurnya. Disebutkan, ritual dilakukan secara bertahap sebelum
proses pembuatan batik dimulai. Khususnya, jika batik tersebut akan
diagem oleh raja, bupati, atau lurah.
Pertama, mengadakan selamatan yang dilanjutkan dengan puasa. Kedua,
menyiapkan uba rampe berbentuk kembang setaman dan jajan
pasar yang diletakkan di dekat tempat yang akan digunakan untuk
membatik. Waktu untuk memulai proses pembuatan batik juga dihitung
berdasarkan neton atau hari lahir dan pasaran orang yang
nantinya akan mengenakannya.
“Selain itu, mori atau kain yang akan dibatik harus direndam dulu
selama 40 hari 40 malam. Jadi, membuat batik itu tidak asal jadi
karena ada serangkaian ritual yang harus dilakukan agar auranya
keluar,” ujarnya.
Terlepas dari percaya atau tidak, ada satu pengalaman tersendiri
yang dialami oleh Larasati Soeliantoro Soeleman saat akan membuat
kampuh untuk pernikahan salah satu putrinya dulu. Saat itu, wanita
yang mengkoleksi batik-batik Jawa klasik ini meminta tolong perajin
batik di Imogiri untuk membuatkan kain tersebut.
Ketika proses berlangsung, ternyata lilin batik tidak bisa keluar
dari lubang canting meski berulang kali dibersihkan. Perajin batik
yang mengerjakan akhirnya mengusulkan untuk mengadakan selamatan
beserta pembacaan doa-doa dulu sebelum proses batik dilanjutkan. “Believe
it or not, setelah ritual tersebut akhirnya pekerjaan itu
berlangsung lancar,” ujar wanita yang selalu mengenakan
batik ini.
Kendati begitu, diakuinya sekarang ini jarang sekali menjumpai
ritual-ritual yang mengiringi proses pembuatan batik. Barangkali,
selain karena motif yang dibuat kebanyakan tinggal menjimplak, juga
karena batik sekarang telah diproduksi secara massal.
Filosofi pola batik
Selain proses pembuatannya yang rumit dan selalu disertai dengan
serangkaian ritual khusus, batik juga mengandung filosofi tinggi
yang terungkap dari motifnya. Hal ini terkait dengan sejarah
penciptaan motif batik sendiri yang biasanya diciptakan oleh
sinuwun, permaisuri atau putri-putri kraton yang semuanya
mengandung falsafah hidup tersendiri bagi pemakainya.
Motif Parang Rusak misalnya. Motif ini diciptakan oleh Panembahan
Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Setelah memindahkan pusat
kerajaan dari Demak ke Mataram, Senopati sering bertapa di sepanjang
pesisir selatan Pulau Jawa yang dipenuhi oleh jajaran pegunungan
seribu yang tampak seperti pereng (tebing) berbaris. Akhirnya,
ia menamai tempat bertapanya dengan pereng yang kemudian
berubah menjadi parang. Di salah satu tempat tersebut ada
bagian yang terdiri dari tebing-tebing atau pereng yang rusak karena
deburan ombak laut selatan sehingga lahirlah ilham untuk menciptakan
motif batik yang kemudian diberi nama Parang Rusak.
Pola Parang Rusak Barong, diciptakan Sultan Agung Hanyakrakusuma
yang ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya sebagai raja dengan
segala tugas kewajibannya, dan kesadaran sebagai seorang manusia
yang kecil di hadapan Sang Maha Pencipta. Kata “barong” berarti
sesuatu yang besar dan hal ini tercermin pada besarnya ukuran motif
tersebut pada kain. Merupakan induk dari semua pola parang, pola
barong dulu hanya boleh dikenakan oleh seorang raja. Mempunyai makna
agar seorang raja selalu hati-hati dan dapat mengendalikan diri.
Motif parang sendiri mengalami perkembangan dan memunculkan
motif-motif lain seperti Parang Rusak Barong, Parang Kusuma, Parang
Pamo, Parang Klithik, dan Lereng Sobrah. Karena penciptanya pendiri
Kerajaan Mataram, maka oleh kerajaan, motif-motif parang tersebut
hanya diperkenankan dipakai oleh raja dan keturunannya dan tidak
boleh dipakai oleh rakyat biasa. Jenis batik itu kemudian dimasukkan
sebagai kelompok “batik larangan”.
Bila dilihat secara mendalam, garis-garis lengkung pada motif parang
sering diartikan sebagai ombak lautan yang menjadi pusat tenaga alam,
dalam hal ini yang dimaksudkan adalah raja. Komposisi miring pada
parang juga melambangkan kekuasaan, kewibawaan, kebesaran, dan gerak
cepat sehingga pemakainya diharapkan dapat bergerak cepat.
Menurut penuturan Mari S Condronegoro, pada zaman Sri Sultan
Hamengku Buwono VIII, motif parang menjadi pedoman utama untuk
menentukan derajat kebangsawanan seseorang dan menjadi ketentuan
yang termuat dalam Pranatan Dalem Jenenge Panganggo Keprabon Ing
Karaton Nagari Ngajogjakarta tahun 1927. “Selain motif
Parang Rusak Barong, motif Batik Larangan pada zaman itu adalah,
motif Semen, Udan Liris, Sawat dan Cemungkiran,” jelasnya.
Motif batik Semen yang mengutamakan bentuk tumbuhan dengan akar
sulurnya ini bermakna semi atau tumbuh sebagai lambang kesuburan,
kemakmuran, dan alam semesta.
Sedangkan motif Udan Liris termasuk dalam pola geometris yang
tergolong motif lereng disusun secara garis miring diartikan sebagai
hujan gerimis yang menyuburkan tumbuhan dan ternak.
Secara keseluruhan, motif yang juga tersusun dari motif Lidah Api,
Setengah Kawung, Banji, Sawut, Mlinjon, Tritis, ada-ada dan Untu
Walang yang diatur diagonal memanjang ini bermakna pengharapan agar
pemakainya dapat selamat sejahtera, tabah dan berprakarsa dalam
menunaikan kewajiban bagi kepentingan nusa dan bangsa.
Motif lain Sawat bermakna ketabahan hati. Sedangkan motif
Cemungkiran yang berbentuk seperti lidah api dan sinar merupakan
unsur kehidupan yang melambangkan keberanian, kesaktian, ambisi,
kehebatan, dan keagungan yang diibaratkan seperti Dewa Syiwa yang
dalam masyaraka Jawa dipercaya menjelma dalam diri seorang raja
sehingga hanya berhak dipakai oleh raja dan putra mahkota.
Seiring dengan perkembangan zaman, Batik Larangan sudah tidak sekuat
dulu lagi dalam penerapannya. Bahkan, motif-motif tersebut sekarang
sudah banyak dikenakan masyarakat di luar tembok kraton. Kendati
begitu, Mari S Condronegoro dan GBRAy Hj Murdhokusumo mengimbau
masyarakat umum yang bukan kerabat kraton untuk tidak mengenakan
motif tersebut, terutama Parang Rusak Barong saat berada di dalam
tembok kraton, untuk menjaga wibawa Sultan.
Lebih lanjut, Gusti Murdhokusumo mengatakan bahwa batik akan selalu
menandai setiap peristiwa penting dalam kehidupan manusia Jawa sejak
lahir hingga ajal tiba. Menurutnya, ada beberapa motif batik yang
sebaiknya dikenakan pada peristiwa-peristiwa penting yang dialami
masyarakat Jawa. Peristiwa kelahiran, misalnya, sebaiknya jabang
bayi dialasi dengan kain batik tua milik neneknya atau kopohan
yang berarti basah. Ini mengandung harapan agar si bayi berumur
panjang seperti sang nenek.
Untuk pernikahan, disarankan mempelai mengenakan kain batik dengan
motif yang berawalan dengan “sida”, seperti Sidamulya,
Sidaluhur, Sida Asih, dan Sidomukti. Atau kalau tidak, bisa
mengenakan motif Truntum, Wahyu Tumurun, Semen Gurdha, Semen Rama
dan Semen Jlekithet. Masing-masing mengandung maksud agar kedua
mempelai mendapat kebahagiaan, kemakmuran dan menjadi orang
terpandang.
“Yang pasti, pengantin jangan mengenakan motif Parang Rusak agar
rumah tangganya terhindar dari kerusakan dan malapetaka,” ungkapnya.
Sebaliknya, ketika akan melayat ke tempat keluarga yang sedang
kesripahan (meninggal dunia) maka sebaiknya mengenakan kain
batik yang berwarna dasar hitam dan menghindari batik dengan warna
dominan putih seperti motif parang. Jenis batik yang cocok untuk
melayat, misalnya motif Semen Gurda atau motif lain yang warna dasar
senada.
Etika mengenakan batik
Memahami makna filosofis dari setiap motif batik yang ada, ternyata
belum bisa menjadi jaminan untuk bisa mengenakan busana batik secara
benar. Sebab, masih ada serangkaian etika berikut tata cara
pemakaiannya. Setiap motif, kata GBRAy Hj Murdhokusumo, membutuhkan
cara pemakaian yang berbeda-beda. Baik dari penempatan waktu dan
tempatnya maupun dari sisi pemakainya.
Untuk batik dengan motif Lereng, misalnya, ketika dikenakan kaum
wanita harus dimulai dari kiri ke kanan. Maksudnya, kain mulai
diikatkan dari sebelah kiri sehingga ujung kain akan berakhir di
sebelah kanan. Sebaliknya untuk laki-laki dimulai dari sisi kanan
dan ujungnya berakhir di sebelah kiri. Selain itu, garis lereng atau
parang-nya harus mengadap ke bawah.
Mengenakan kain batik tak bisa dipisahkan dengan urusan wiru.
Untuk melipat wiru, dimulai dengan warna putih berada di arah
luar dan “wiron” harus jatuh di atas paha kanan untuk putri.
Sedangkan untuk laki-laki, wiru berada di tengah dan menghadap ke
arah kiri. Biasanya, wiron untuk laki-laki lipatannya lebih besar
dibanding wiron untuk kain yang dikenakan perempuan.
Di lingkungan kraton, bagi generasi cucu laki-laki ke bawah dan
abdi dalem, sebaiknya mengenakan wiru engkol. Sedang untuk putri,
tergantung dhawuh dalem. Harus pakai wiron atau
seredhan (kain yang tidak diwiru), Hal yang terlihat sepele tapi
penting adalah jika mengenakan motif Gurdha, motif binatang atau
kembang, maka ceploknya harus menghadap ke atas.
Saat mengenakan kain batik, tutur Mari Condronegoro, bagian mata
kaki harus tertutup. Begitupun untuk bagian atas, terutama bagi
perempuan, sebaiknya dibuat agak longgar sehingga tidak
memperlihatkan lekuk tubuh pemakainya. Sepintas, potongan seperti
ini terkesan tidak rapi, tetapi memang seperti inilah etika yang
harus dipatuhi.
Begitulah, dari ribuan motif atau pola tradisional yang ada, dalam kesempatan ini hanya beberapa yang diuraikan karena keterbatasan ruang. Apalagi untuk menganalisa makna filosofis dari simbol-simbol yang terkadang bersifat ganda dan menyejarah, diperlukan interpretasi dan reinterpretasi makna yang cerdas, jujur dan dengan kesungguhan agar makna-makna yang disampaikan dapat diterima oleh masyarakat Dan, dengan begitu akan bisa menambah pemahaman dan kecintaan kita terhadap batik. Kalau bukan kita, siapa lagi yang akan nguri-uri warisan budaya adiluhung itu?